COVID-19 XPERIENCE #1 : Menemani Toddler School-from-Home

Updated: Apr 4

Penyebaran virus corona atau Covid-19 yang sangat cepat, ditambah semakin banyaknya pasien yang dinyatakan positif membuat pemerintah melakukan sejumlah tindakan tegas. Tidak terkecuali Jakarta, domisili saya yang merupakan wilayah penyumbang paling banyak pasien positif Covid 19. Hari ini sudah masuk minggu ke-3 saya working from home (WFH) dan sudah satu minggu ini Avicenna school-from-home (SFH).


Selama sepekan ini, para orangtua diharapkan dapat menjadi "guru" sembari menemani mereka mengikuti kegiatan belajar secara online. Can you imagine how hard it is? Ini adalah reaksi pertama saya ketika mengetahui sekolah Avicenna akan melakukan Home-Based Interactive Learning, mengingat umur Avicenna baru 3,5 tahun. Di umur-umur seperti ini, untuk membuat Avicenna dapat duduk anteng saat makan saja sudah menjadi prestasi untuk saya. Nah, lalu bagaimana ini membuat Avicenna untuk anteng di depan Ipad mengikuti school-from-home?

Guideline Saves Me!

Untungnya para orangtua sudah diedukasi beberapa hari sebelumnya untuk program ini, walaupun edukasinya juga tetap online since it's quarantine time. Tapi setidaknya, saya memiliki bayangan akan seperti apa per-sekolah-an berlangsung. Untungnya lagi, para guru dari sekolah Avicenna memberikan rundown activity serta step by step yang clear untuk kami, para orangtua. Contohnya seperti ini:

  1. Outside time : Sunbathing (para orangtua diharapkan menemani anak untuk sunbathing di rumah masing-masing)

  2. Greeting time untuk semua murid melalui video conference jam 09.00 - 09.10 a.m

  3. Story time (guru akan membacakan buku dengan cerita tertentu melalui video conference) jam 09.10 - 09.20 a.m

  4. Nah, di-point inilah yang saya maksud dengan step by step yang clear. Setelah story time, kegiatan berikutnya adalah Large Group Time. Kalau di sekolah, biasanya para murid akan melakukan activity secara bersama-sama. Tapi kali ini, kami para orangtua diberikan pilihan dua opsi activity yang akan dilakukan. Misal temanya adalah My Favourite Song. Kita diminta untuk bermain role play dimana si anak akan menjadi penyanyi dan orangtua penontonnya.

  5. Lalu, ada juga yang namanya Small Group Time. Basically, kalau di sekolah mereka dibagi menjadi beberapa group kecil dengan minat yang sekiranya sama. Again, kita juga diberikan opsi pilihan activity untuk menunjang kegiatan ini.

Lalu, bagaimana dengan progress report si anak? Di setiap poin activity, para orangtua diminta untuk me-record atau memfoto kegiatan si anak, kemudian submit kegiatan-kegiatan tersebut ke online private file yang sudah disediakan oleh sekolah.


Susah gak sih?

Well, sebagai seorang working mom, I won’t say it easy. Tapi, bukan berarti gak bisa. Buktinya saya masih bisa survive mendampingi Avicenna dengan berbagai macam trik-trik yang berhasil membuat dia anteng di depan Ipad mendengarkan gurunya bercerita di story time atau ketika menunggu giliran disapa “how are you?” di greeting time. Jangan disangka tanpa kendala ya. Karena sometimes sejujurnya sering sekali jadwal conference call Avicenna yang bentrok dengan jadwal meeting conference call kantor saya. Pernah di satu waktu jadwalnya bentrok dengan agenda meeting Radirtas (read: Rapat Direksi Terbatas) yang which is gak memungkinkan kalau saya double dengan mendampingi Avicenna sekolah. Untungnya, saya dan suami dari awal sepakat untuk saling backup dan cover. Dan untungnya lagi, waktu itu dia lagi gak ada meeting juga. Yeay! Intinya, jangan menilai ini semua sebagai beban, tapi lihatlah sebagai momen dan kesempatan untuk menjalin deep and warmth interaction bonding dengan anak. Dan plus-nya lagi, kita jadi semakin solid team work dengan suami.


Untuk toddler, memangnya efektif?

Covid-19 memang membuat aktifitas kita berubah 180 derajat, termasuk kegiatan belajar mengajar. Sejujurnya, saya mencoba mencari referensi statistic report dari pemerintah atau lembaga tertentu terhadap efektifitas home schooling kepada murid, khususnya toddler. Tapi, saya belum menemukannya. In my personal opinion, kegiatan belajar untuk toddler sebenarnya bukan untuk hard skill, tapi lebih kepada membangun social and emotional skills melalui kesempatan dimana mereka bukan hanya mengekspresikan perasaan saja, tetapi juga mempertajam imajinasi serta kreatifitasnya. Dan salah satu kuncinya juga adalah orang tua dapat berperan aktif dalam kegiatan ini. Selama hal tersebut dapat dijalani dengan baik, saya yakin home schooling ini dapat menghasilkan output yang efektif.


Di sekolah Avicenna, kami para orangtua memang terbiasa untuk home-school collaboration dikarenakan itu merupakan salah satu distinction programme dari sekolah untuk membangun positive environment terhadap perkembangan anak. Tapi, bedanya saat ini kolaborasi orangtua dengan sekolah melalui media online, bukan tatap muka seperti biasa. Mungkin tidak banyak yang dapat saya lakukan untuk pencegahan penyebaran Covid-19. Namun, setidaknya dengan mendukung pemerintah untuk tetap #dirumahaja dan fokus mendampingi Avicenna sekolah online, semoga kami dapat menyiapkan Avicenna sebaik mungkin sebagai penerus bangsa.

0 views

©2020 copyright by DINADINC